Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Testimoni Vaksin Sinovac

Gambar
Jadi dalam hitungan hari, di kantor beredar kabar bahwa seluruh pegawai akan divaksinasi secara bertahap. Penulis termasuk yang dapat jadwal hari ini, pukul 15.00 WIB. Ba'da sholat ashar, merapat ke lokasi. Mengisi beberapa berkas screening, lalu mengantri dipanggil.  Aaand just like that, i'm already vaccinated . Rasanya ya gitu doang. Ngga sesakit imunisasi pas jaman masih SD (keknya dulu penulis lebih sering nangisnya daripada enggaknya). Lebih kerasa masuknya jarum donor juga. Cuma jleb, cuss, dah, kelar. Emang sih ada rasa pegel dikit di bagian yang habis disuntik, reaksi wajar kan? Penulis ngga terlalu mengikuti keramaian pro kontra vaksinasi. Bagi penulis, yasudahlah namanya juga ikhtiar. Bukankah metode ini juga dipakai untuk berbagai penyakit lain? Kenapa baru sekarang ributnya? Mungkin karena memang vaksinnya baru banget diteliti dan kita adalah manusia-manusia generasi pertama yang akan mencobanya, kali ya, jadi banyak yang ogah. Ditambah imej barang cina dan isu dek

Berat, Tapi Ada yang Lebih Berat

Gambar
Kalau anak ngga nurut sama orang tua, orang tua kudu sadar diri, jangan-jangan karena ortu ngga nurut perintah Allah, anak jadi ngga nurut orang tua Kalau ngerasa gak didengerin sama anak jangan-jangan gara-gara ortu yang gak pernah dengerin anak saat diajak bicara Kalau ngerasa anak susah diajak komunikasi, jangan-jangan karena memang jarang diajak komunikasi Kalau ngerasa anak suka berperilaku kasar, jangan-jangan ia cerminan ortu yang suka berbuat kasar Kalau ngerasa anak susah diatur, jangan-jangan karena ortu yang gak taat sama aturan Yang Maha Mengatur Kalau anak susah diajak ibadah, jangan-jangan emang ortu kurang kuantitas atau kualitas saat beribadah Sebelum menuduh anak-anak nyusahin, ngaca dulu ke masa lalu, jangan-jangan dulu ortu juga gak kalah nyusahin Sebelum mencap kelakuan anak kayak setan, ngaca dulu, jangan-jangan ortu yg kelakuannya kayak setan Gendong anak memang berat, tapi jauh lebih berat pertanggungjawabannya kelak di akhirat

Sepele

Gambar
Terkadang, ada kebaikan-kebaikan kecil yang seringkali dianggap remeh dan diabaikan. Saat di rumah makan, misalnya. Setelah makan, tentu sebenarnya mudah bagi kita untuk mengumpulkan sampah sisa makanan pada satu piring dan merapihkan piring lain (yang sudah agak bersih dari sisa makanan) dalam satu tumpukan. Hal sepele yang bisa dilakukan sembari mengobrol dan menunggu bon dari rumah makan itu, tentu akan memudahkan para pelayan membereskannya (adegan semacam ini dilakukan sebelum pandemi covid19 yaaa. Kalau sekarang mending makan di rumah aja). Namun kadang, ada saja alasan untuk membiarkan meja tempat makan kita berantakan. "Kan memang mereka dibayar (salah satunya) untuk membereskan itu", ujar seorang kawan, kala penulis merapihkan piring-piring sisa makan di kantin. Alamak, tak ingatkah bahwa jika memudahkan urusan orang lain, kelak Allah akan mudahkan urusan kita? Bukankah setiap kebaikan kelak akan dibalas, asal kita melakukannya dengan ikhlas? Coba kita tengok amal ib

Dua Spektrum Manusia

Masih tentang pandemi yang sedikit lagi mencapai angka satu juta jiwa tercatat di Indonesia, ia pun mengungkap dua sisi manusia. Di satu sisi, manusia-manusia yang peduli dan tak ingin membebani sesama; di sisi lain ada manusia yang hanya peduli kepentingan dirinya saja. Sebut saja Mr. A, yang suatu ketika mendapat jatah masuk kerja, tidak di rumah. Sehari sebelumnya, Mr. A sempet cari pengganti buat tukar dinas karena beliau ngerasa nggak enak badan, sempat ada kontak erat dan mau tes swab . Pada akhirnya di hari H, Mr. A nggak dapet pengganti. Singkat cerita, beberapa hari kemudian ternyata Mr. A+ covid.  Coba, apa jadinya kalo Mr. A tetap memaksakan diri masuk kerja? Apa jadinya kalo Mr. A sebodo amat sama orang lain? Bisa jadi teman piketnya waktu itu, yaitu saya sendiri, bisa tertular. Alhamdulillah, Allah masih melindungi saya dan keluarga melalui perantara Mr. A yang aware dengan kondisi kesehatan dan care dengan orang lain, tak mau memaparkan risiko pada orang lain. Maturnuwun

Terbanglah, Capt

Gambar
Berita duka hadir di awal tahun 2021 ini. Ditengah pandemi Covid-19 yang makin menjadi, pesawat Sriwijaya Air SJ-182 jatuh menghujam bumi. 62 nyawa di dalamnya pergi dan mungkin tak kan pernah kembali, meninggalkan keluarga yang semoga tabah menghadapi. Badan Nasional Pencarian dan Penyelamatan memimpin misi, didukung TNI dan berbagai instansi. Beberapa puing dan bagian tubuh manusia sudah ditemukan hingga saat ini, termasuk posisi kotak hitam yang katanya telah ditandai. Apapun musabab jatuhnya si burung besi, biar dunia penerbangan yang jadikannya evaluasi. Sementara bagi kita pribadi, musibah ini mengenalkan kita pada seorang tokoh yang layak diteladani. Beliau bernama Capt. Afwan, dikenal sebagai pribadi yang baik oleh para rekan. Ibadah sholat tak pernah ia lupakan, tak lupa orang lain pun diingatkan. Bahkan jejak digital terakhirnya pun, berisi ajakan agar sholat tak kita tinggalkan.  Seorang manusia yang insyaAllah mulia, namanya melegenda setelah ia tiada. Memang bukan Nabi yan