Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Lord Brokensword and The Butcher's Son (3)

A sweet womem named Raksi was born in a humble peasant family at the unconquered land. During her childhood, she had always wore used clothes from her older sibling, or a rough home sewn clothes. When young Raksi wanted to change her life, she went to neighboring city, worked as textile trader's employee. It was like a dream job for her, since she could touch various hi-quality textile and garments, although not owning it, yet. She rarely visited her family back in the land, because there was so much suffering she endured there, and she was quite happy with her new life. 
But for one moment, when she went back to her family's house, a fateful meeting happened. She was on a cart on the way home, when she saw several unfamiliar men near her family's house.
Lord Baroush stood there dashingly, his brown  horse nearby. He was looking for a good tailor to make his men's uniform. His squad only had a formal uniform sewn by The Kingdom's tailors, but they also needed field u…

Lord Brokensword and The Butcher's Son (chapter 2)

The Lord of The Unconquered Land (from now on we will call him by his real name, Baroush of The Jungle) was raised by a family of lumberjack. His father taught him about woodcrafting since his childhood, and although he wasn't not the brightest among his 7 brothers, he was a hardworker. He was always a man of action, did little talk and always focused on his goal. Not to say that he never taste fall, defeat or humiliation, but a determined one who always know to stand up after each fall in life. Due to his hardwork, he climbed his rank to be one of the kingdom's carpenter. 
At the beginning, he was tasked to make a wooden weapon for the soldier to train, and he always delivered the best result. A wooden weapon was just meant as a mean to familiarize newly recruited soldier with real weapon, but he decorated each of it with a unique ornament, earning popularity among the trained soldier. Even senior soldiers often asked him to made them personal ornamental items. The King aknowl…

Let's Read: Membawa Imaji Menembus Dimensi

Gambar
"Membaca adalah jendela dunia", demikian kata salah satu pepatah yang paling kita kenal. Tapi, pernahkah kalian sungguh-sungguh meresapinya?Bagiku sendiri, rasa-rasanya aku tak hanya membuka jendela dunia melalui buku. Jendela itu telah kulompati dan akupun telah berlarian ke berbagai dunia lain, dengan jasmaniku yang tengah terduduk dalam diam. Aku merasa amat beruntung dengan kondisi keluargaku. Kami menempati sepetak bangunan yang merupakan bagian dari sebuah sekolah swasta tua yang telah melewati masa kejayaannya. Sekolah itu masih ada hingga kini, namun telah kalah dihempas zaman dan hanya menyisakan sedikit siswa di tiap angkatannya. Ia hidup segan mati pun tak mau, layaknya seonggok rumput kering di lapangan berdebu. Pun demikian, ada satu fitur yang amat kusukai dari sekolah tua itu; perpustakaannya.Buku-buku di dalamnya telah lahir ke dunia lebih dulu dariku. Sebagiannya lapuk dimakan rayap, ada pula yang halamannya lengket terkena bocoran hujan. Ruangan itu gelap d…

Lord Brokensword and The Butcher's Son

Once upon a time, in a peaceful side of a kingdom, live a rich landlord with his family. He was so rich, that any report of a stealing of his treasury never bothered him. He ruled over this piece of land given by The King with great wisdom, albeit a twisted one. This piece of land given to him by The King, was a wasteland. He was one of the king's bravest warrior, who accompanied him through many battles. During one of their journey of conquest, they came across this abandoned piece of land, and he thought 'what a waste, a land this vast but noone conquered'. The locals said that the land was cursed, so nobody came to cultivate this peaceful land. He then humbly asked The King to lead a party with a mission 'to change this wasteful piece of earth into one of the kingdom's most fruitful garden'. A very brave bet, indeed. But The King granted him the request anyway. He thought that nobody would be bothered anyway, so with the power he had, The King appointed him …

Lomba Naskah Film Pendek; Behind The Storyboard of Jagur

Gambar
Jadi ceritanya, 21 Juli tahun lalu, di salah satu WAG ada informasi tentang lomba. Sebenernya dari kemarinnya sudah ada info, cuma penulis belum menggubris. Saat itu (tanggal 21 alias h-3 deadline lomba) kayaknya mata lagi siwer, jadi ngiranya lomba film pendek. Pas tanggal 22 alias h-2 baru ngeh kalo lombanya cuma naskah film pendek. Nanya lah sama kawan yang membagikan info tersebut, dan singkatnya penulis submit karya tanggal 23, tepatnya ba'da maghrib baru penulis kelar kirim surel ke panitia lomba.

Fast forward ke hari-h pengumuman, alhamdulillah dikabari kalau naskah penulis menang, juara 1 dari 39 naskah yang masuk. 



Tanggal 6 Agustus penyerahan hadiah dari Pak Dirjen. Alhamdulillah dapet laptop Dell Inspiro 14 3000. Lucunya, beberapa waktu sebelumnya, istri sempet nyeletuk "yaudah ikut aja kalo ada lomba-lomba, siapa tahu dapet laptop", mengetahui laptop penulis yang udah dipake sejak 2013 sudah mulai rewel. Dan pas lomba itu, penulis cuma nanya ketentuan, ngga nan…

Siapkah?

Hai jasad, siapkah kau tidur berkalang tanah?
Sendiri tanpa keluarga Sunyi tanpa suara Gelap tanpa cahaya
Hai jasad, siapkah kau dicerna? Oleh cacing dan serangga Tak bisa melawan, tanpa daya Hingga ludes tanpa sisa
Hai jasad, siapkah kau membusuk? Paras terindah pun kelak kan nampak buruk Tak seorangpun kan sudi memeluk Kala wujudmu t'lah lapuk
Oh jiwa, janganlah terlena
Kita kan selalu bersama, bahkan setelah akhir dunia
Oh jiwa, janganlah takabur
Kelak kau yang akan menjawab pertanyaan di alam kubur
Oh jiwa, janganlah kau terlupa
Nanti dihisablah segala yang kita lakukan bersama di dunia

Belajar Jadi Dosen

Kalau beberapa tahun lalu penulis belajar jadi pengajar melalui bimbel, kali ini penulis berkesempatan belajar mengajar mahasiswa beneran.
Jadi ceritanya, beberapa bulan lalu Politeknik Keuangan Negara STAN yang notabene adalah almamater penulis membuka lowongan menjadi dosen tidak tetap untuk mengajar pada mata kuliah Pengawasan Laut Kepabeanan dan Cukai. Long story short, penulis ikutan daftar dan diterima. Maka selama 7x pertemuan, lalu UTS, lanjut 7x pertemuan lagi, penulis mengampu 2 kelas mahasiswa PKN STAN Prodi Kepabeanan dan Cukai semester VI sebagai dosen tidak tetap.
Tentu beda sensasi ngajar bimbel dan kampus. Apalagi di tengah pandemi yang mengharuskan kegiatan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh (PJJ) dengan berbagai fasilitas daring. Seseru apa sih jadi dosen (tidak tetap) di PKN STAN?
Yuk disimak: 1. MerintisBersama 5 pejabat/pegawai lain, penulis menjadi tim pengajar makul tersebut. Mulai dari menyiapkan Rencana Pengajaran Semester, materi untuk 14 pertemuan hingga s…

COVID-19: Ada Yang Udah Kualat Sama Gurunya?

Pandemi tak hanya memaksa para pekerja  untuk ber-WFH, namun juga anak sekolah untuk sekolah dari rumah. Bagi sebagian orang yang sudah memiliki koneksi internet stabil, gawai mumpuni dan kelonggaran waktu untuk menemani anak bersekolah, mungkin ini akan memudahkan. Tapi tentu tak semua siswa memiliki akses terhadap itu semua.Terlepas dari itu, mungkin sebagian pembaca sudah mengalami keseruan menemani anak sekolah?Bagi penulis, menemani si kecil (usia 3 tahun +) bersekolah di rumah memang tak selalu mudah. Memang istri sih yang lebih banyak menangani langsung. Istri mengikuti sebuah kelas daring untuk kegiatan pembelajaran anak gadis. Dan hanya dalam 4 pertemuan, udah kebayang susahnya jadi pengajar, terutama untuk anak usia dini. Pertama-tama kesulitannya terkait jadwal. Kesibukan di rumah memang tak ada habisnya, dan harus memaksa untuk meluangkan waktu untuk kegiatan belajar. Kedua, mood anak tak selalu siap untuk belajar. Seringkali, harus sedikit merayu dan agak banyak memaksa s…

COVID-19: WFH Mengajarkan . . .

Kali ini mau menulis tentang salah satu dampak pandemik lagi. Bukan bahas bagaimana siapnya pemerintah menangani pandemic ini soalnya kan di rezim ini haram hukumnya mengkritik ya, apalagi ASN. Bukan pula menulis tentang dampak ekonomi, awak bukan ahlinya (coba tengok ini saja, tulisan dari seorang senior di kantor). Bukan pula menulis tentang duet maut antara rendahnya literasi warga +62 yang berkombinasi dengan maraknya informasi tak bertanggungjawab terkait pandemic (tengok aja tulisan seorang kawan di sini, lebih paten bahasa dan bahasannya). Tapi mau bahasWFH (work from home) atau bekerja dari rumah. Demi meminimalisir pergerakan manusia yang berpotensi menjadi pembawa virus, maka banyak pihak menerapkan WFH bagi pekerja mereka, tak terkecuali di instansi penulis. Dan bagi penulis, WFH ini rupanya mengajarkan beberapa hal pada kita. misalnya:
1. banyak momen keluarga yang tak dirasakan ketika kita WFO. Misal, memandikan anak pagi-pagi, menggantikan baju mereka, menyiapkan makan …

COVID-19: IRT adalah Profesi Mulia

Setelah menjalani WFH selama beberapa pekan, rupanya ada satu hal yang makin disadari oleh banyak suami: jadi Ibu Rumah Tangga (IRT) itu berat Bro.
Bayangin deh apa yang terjadi ketika Pak Suami berangkat kerja. Memang sudah kewajiban suami bekerja untuk menafkahi keluarga, baik kerja banting tulang, peras otak, maupun yang kerjanya cukup selow. Ada yang memang kerjanya bikin stres, ada juga yang kerjaannya bikin orang lain stres.
Lalu apa yang terjadi pada Bu Istri? Ditinggal suami kerja, maka Bu Istri bergerak membereskan rumah dan anak-anak, jika sudah ada. Pekerjaan rumah banyak banget lo. Mulai urusan pangan: nyiapin sayuran dan lauk, lalu memasaknya. jangan lupa cuci beras, masukin ke magic com dan nyetekin tombol cook, dilanjut cuci piring dkk. Urusan baju: cuci-bilas-jemur-lipet-setrika. Urusan kebersihan rumah: nyapu, ngepel, beberes. Urusan anak: mandiin, makein baju, nyuapin, nenenin, nyebokin, ngajak main, ngajarin. Dan banyak lagi urusan lain yang bisa membuat si ibu capek …

COVID-19; Mengekspos (Sebagian) Sisi Gelap (Sebagian) Manusia?

Gambar
Sejak presiden kita mengumumkan adanya WNI yang positif menderita COVID-19, media di Indonesia makin marak memberitakan tentang COVID-19. To be fair, sejak beberapa bulan terakhir banyak negara telah mewaspadai dan banyak media di seluruh dunia memberitakan tentang penyakit ini; warga +62 yang aja kebanyakan bikin meme dan terlanjur menyepelekan. Kali ini penulis mencoba bahas fenomena ini dari sudut pandang berbeda. Bukan dari jumlah penderita tercatat ataupun korban jiwa, bukan pula dari sisi medis dan manajemen risikonya seperti yang dilakukan seorang kawan se-SMP penulis. Tapi dari sisi humanisme. 
Penulis rasa, penyakit ini membuat sebagian manusia menampilkan sisi, well, inhuman mereka. Ada beberapa contoh.
Satu. Ketika masker menjadi barang yang amat dicari, sekejap stok menjadi langka. Sebagian orang menimbun dan menjualnya krmbali dengan harga tak wajar. Mekanisme pasar berlaku, kata mereka. Permintaan meninggi dan penawaran terbatas, maka harga pun melambung tinggi sebagaima…

Kacang tuh Gurih, Tapi Dikacangin tuh Pedih

Gambar
"Kacang tuh gurih, tapi dikacangin tuh pedih".
Itulah sepenggal kalimat yang disampaikan Ustadz Bendri Jaisyurrahman pada Ta'lim Kamis Siang di Masjid Baitut Taqwa Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pada siang tadi. Apa pasal?
Rupanya yang dimaksud adalah, terkadang, salah satu bentuk hukuman Allah pada pelaku maksiat adalah dalam bentuk "dicuekin" alias "dikacangin" sama Allah.
Kok bisa sih? Bukannya Allah Maha Pengasih (Ar-Rahman), di mana kasih-Nya tak pilih-pilih, baik manusia yang taat maupun tidak, semua diberi (sebagian) kenikmatan duniawi?, mungkin demikian pikir sebagian pembaca.
Ya memang, sebagian nikmat tetap diberikan. Tapi nikmat iman nggak dikasih. Akibatnya? Hatinya santai aja meski bermaksiat. Ibadah pun berat rasanya. Kalo udah gitu, siapa yang rugi coba? Tahu-tahu di hari akhir, timbangan amalan kita berat di sisi keburukan dan ringan di sisi kebajikan. Duh, cilaka banget nggak sih?
Maka, mumpung masih ada sekitar 2 bul…

What a Pain in The Ass

Gambar
Jadi tadi pagi, ceritanya penulis lagi asik memeras dan menjemur cucian. Dalam satu gerakan, penulis mencoba berjongkok untuk mengambil jemuran di bak, tanpa sengaja sebuah benda di belakang penulis (yang keberadaannya tak penulis sadari) bertemu dengan kumpulan otot gluteus maximus penulis. Hasilnya? What a pain in the ass.



Langsung penulis merasa bersimpati pada 195+ pria korban Reynhard Sinaga.
Jadi teringat suatu materi tentang LGBT yang disampaikan oleh Dr Aisyah Dahlan pada acara talkshow hari ibu tahun 2018 lalu yang harusnya segera penulis post segera setelah artikel ini.

Oke, untuk melunasi hutangan postingan blog dulu, kali ini penulis akan membahas sub-materi yang dulu dibahas oleh Dr Aisyah Dahlan. Lagian momennya juga pas, lagi heboh Reynhard. Ini tema yang lebih serius gaes, jadi bersiaplah.

Dr Aisyah, berdasar pengalaman beliau, menyebutkan ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab seseorang menjadi gay alias maho.
Ada yang awalnya jadi korban, namun lama kelamaan menjadi …

Indhannas 2030:Menuju Kemandirian Pertahanan Nasional

Gambar
Dalam novel karya Peter Warren Singer dan August Cole, Ghost Fleet, dikisahkan bahwa pada pada tahun 2030, Indonesia telah menjadi negara gagal. Meksipun novel techno-thriller tersebut mengandung unsur-unsur yang diambil dari teknologi dan kondisi geopolitik dunia nyata, bagaimanapun, Ghost Fleet adalah karya fiksi. Mari kita berimajinasi dengan nuansa yang lebih optimis. Pada tahun 2030, bagaimanakah kondisi industri pertahanan nasional? Mari berandai-andai. 

Pertama-tama, mari kita ingat konsep triple helixdalam pertahanan nasional, yaitu pemerintah, pendidikan, dan industri yang bersinergi untuk medukung pertahanan nasional.  Pemerintah diwakili Kementerian Pertahanan, TNI, Komite Kebijakan Industri Pertahanan, Lemhanas, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, serta berbagai instansi lain yang memiliki keterkaitan dengan pertahanan, baiklangsung maupun tidak langsung. Fungsi utama pemerintah adalah mendukung industri pertahanan dengan membuat regulasi yang bertujuan untu…