Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

Jalan Hijrah Tak Selalu Mudah

Ketika kita telah memilih hijrah, sadarilah bahwa tak selamanya jalan itu mudah

Terkadang ada rintangan yang membuat hati gelisah

Acapkali dikucilkan atau ditertawakan hingga muka memerah
Ada kalanya bertubi-tubi muncul masalah
Tak jarang pula ingin menjerit menumpahkan keluh kesah
Di suatu titik akan merasa lelah dan ingin berkata "sudah"
Hingga muncul godaan untuk menyerah
Namun yakinlah, Allah tak kan biarkan hambanya menanggung susah
Karena kadar ujian pasti telah diukur tanpa salah
Meski kadang kita merasa lemah
Meski kadang kita terjatuh dan berdarah
Namun bangkitlah dan terus melangkah
Karena berhijrah, insyaAllah kan berakhir indah


*terilhami kisah seorang rekan yang melangkah menuju kebaikan, meski terjatuh namun ia tak menyerah dan terus berusaha


Wujudkan Cita-Cita Sisdiknas Demi Keunggulan SDM dan Produktivitas Nasional

Gambar
Indonesia dengan penduduk sebanyak 271 juta jiwa, diperkirakan akan mengalami puncak bonus demografi pada periode 2020-2030.Bonus demografi merupakan kondisi di mana jumlah penduduk berusia produktif (15-65 tahun) lebih banyak daripada penduduk berusia non-produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun). Secara teoretis hal ini dapat berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi. Namun jika tidak dipersiapkan dengan baik, hal ini justru berpotensi menimbulkan kelebihan tenaga kerja dibanding lapangan kerja yang ada. Hal ini pada gilirannya  dapat menyebabkan pengangguran yang berakibat pada meningkatnya kemiskinan.
Fenomena ini menuntut kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) berusia produktif yang andal agar dapat berkontribusi positif kepada pertumbuhan ekonomi alih-alih menjadi beban negara. Persiapan menghadapi bonus demografi telah disinggung dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2015-2019. RPJMN 2015-2019 memaparkan 6 bidang pembangunan dan 23 kebijakan ya…

Benarkah Pendidikan Kita Jeblok?

Ta'lim Kamis Siang oleh DKM BT KPDJBC bersama Ust. Adian Husaini menanggapi PISA 2018 result di mana Indonesia sering berada di peringkat 10 terbawah. PISA menilai kemampuan matematik, membaca dan sains.
Namun benarkah demikian? Pemateri mempertanyakan metode pengukuran tersebut, di mana tidak adil jika menilai pendidikan dari 3 unsur saja, dan mempertanyakan apakah metode pengambilan sampel penelitian tersebut valid? Apakah kriterianya cocok dengan negara kita?
Pemateri berpesan, coba kita jangan menjelek-jelekkan diri kita (meskipun jangan sok dibagus-baguskan kalau memang ada kekurangan).
Salah satu kritikan dari Prof Daniel M. Rosyid yang mengajak kita mengenang nasehat Ki Hadjar Dewantara di mana pendidikan adalah membangun jiwa merdeka, tak sekedar capaian matematika dan sains saja. Tak perlu kita terlalu minder dengan kriteria "negara-negara maju" yang sebenarnya juga menghadapi masalah yang hampir sama di sektor sosial, ekonomi dan lingkungan. Jangan sampai krit…