Rekap Menu Sharapan Pagi Bareng OTL Pekan Pertama Ramadhan

Alhamdulillah sharapan bareng OTL telah berjalan lancar, minus hari pertama Ramadhan karena pas hari Senin tuh kerjaan masing-masing pada riweh banget dari pagi.
Hari pertama penulis mendapat mandat untuk giliran pertama pembicara karena inisiator sedang dinas luar kota. Temanya ada di postingan sebelumnya, tentang 3 rahasia. Silahkan tengok apabila belum sempat baca.

Hari kedua, Mas Argo si jago statistik mendapat giliran berbicara. Menu sharapan yang disiapkan oleh Mas Argo diambil dari buku Rhenald Kasali dengan tema "berlepas dari sangkar emas". Isinya tentang bagaimana mendidik anak dengan fokus pada menumbuhkan kemampuannya menyelesaikan masalah, bukan jadi ortu yang sekedar menyelesaikan masalah si anak. Kalau si anak biasa disiapkan segala sesuatunya, maka tak ubahnya burung di sangkar emas. Indah nampaknya, namun jika dilepas ke alam liar, mungkin tak sanggup mengepakkan sayapnya. Alias manja dan tak mampu menjadi penyintas yang berjaya menaklukkan problema.

Sementara menu sharapan hari ketiga dibawakan Dhek Pandu dgn tema "memburu restu orang tuamu". Dhek Pandu berkisah tentang masa kecilnya di suatu kota kecil di Kalbar, di mana orangtua beliau senantiasa menyuruhnya membantu segala pekerjaan rumah, dengan instruksi yang kadang bikin terperangah. Sempat ada eranya Dhek Pandu berontak, ingin jauh dari orangtua agar tak disuruh-suruh lagi mengepel satu ubin dengan satu bilasan, misalnya. Memilih untuk melanjutkan SMA di Ngabang nan jauh meski orangtua sempat melarang. Namun terkadang, segala permintaan bantuan beberes rumah itulah cara orangtua mendidik kita agar tak manja, agar tak terjebak dalam sangkar emas, kalau kata Mas Argo yang mengisi sesi sharapan sebelumnya. Akhirnya tiba pula momen ketika Dhek Pandu menyadari bentuk perjuangan dan kasih sayang orangtuanya. Ketika ia pulang dan menyaksikan betapa keras perjuangan orangtua demi membiayai sekolahnya. Dari mengurug kolam, menggarap kebun dan sebagainya, hingga menangis ia dibuatnya, bahkan bergetar suaranya saat bercerita, sampai penulis pun sedikit berkaca-kaca kala mendengarnya. Ah orangtua, sungguh tak ternilai jasa-jasa kalian. Maka tumbuhlah niatan dalam dirinya, bahwa mengecewakan dan membuat orangtua menangis haram hukumnya. Ridho Allah melalui ridho orangtua, yang sempat terbukti kala Dhek Pandu sempat mengalami cedera. Alkisah Dhek Pandu pergi naik gunung bersama kawannya, meski orangtua melarang tak diindahkannya, hingga dalam perjalanan sempat terjatuh dan terkilir tangannya. Instant karma kalau penulis menyebutnya. (teringat adik kandung penulis yang juga sering terkena kejadian serupa saat melanggar perintah orangtua. Mungkin di lain waktu akan saya ceritakan). Maka kawan, burulah restu orangtuamu, karena ridho Allah pun terletak di situ.
"siapa yang meletakkan bawang di sini?"#insertsquidwardmeme
Selanjutnya, tema Sharapan di Jum'at pagi yang penuh berkah ini adalah hijrah, fenomena yang lagi trendi dinkalangan selebriti, yang dibawakan oleh Bu Yosi. Meski sejarahnya hijrah adalah perpindahan sehingga mutasi pegawai juga bisa disebut hijrah, namun kali ini Bu Yosi membahas hijrah dalam arti spiritual. 

Tak melulu membahas ibadah kelas berat macam tahajud, puasa dawud, berhijab lebar, atau one day one juz, namun hijrah pun dapat dilakukan dengan memulai hal-hal kecil, sunnah-sunnah yang terkadang terabaikan.

Misal, memberikan salam dan senyum pada rekan-rekan saat tiba di kantor, membantu meringankan beban rekan pramubakti dengan membereskan sendiri piring gelas yang sudah dipakai, meluruskan niat dalam ibadah, menambah sedekah, meningkatkan amalan yaumiyah terutama di bulan Ramadhan (misal, nambah target ngaji dari cuma beberapa juz sampai khatam), berusaha lebih nurut dan membahagiakan orangtua seperti Dhek Pandu (mungkin kala itu Dhek Pandu sedang mengalami momen hijrah), dll. Selama itu hal baik dan bisa ditambah sedikit demi sedikit, lakukanlah.

Karena hidup itu adalah perlombaan, antara amalan kita dengan usia kita, maka hendaklah kita ber fastabiqul khairat, alias berlomba-lomba dalam kebaikan. Kalau pun belum bisa berlomba dengan para orang shaleh dalam beribadah, maka berlomba-lombalah dengan sesama pendosa untuk bertaubatšŸ†
"boleeh qaqaa, sharapannya", ujar Bu Yosi
Karena berbuat baik itu, yang penting lakuin aja dulu kayak kata tokopedia. Intinya sih, semoga kita2 ini bisa meningkatkan kapasitas diri, dan menjadi lebih dan lebih baik, demi Bea Cukai yang Makin Baik.
Dan semoga, sharapan pagi bareng OTL juga bisa berkontribusi demi DJBC yang makin baik, ngga cuma makin baik dari segi birokrasi dan sistem kerjanya, namun juga mental dan spiritual para pegawainya. Bismillah

Komentar

Posting Komentar

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan dan menjadi lebih bermanfaat lagi :)

Nuwus . . .