Postingan

Cerita Dewasa Bersama Istri

Gambar
Aku adalah seorang pria paruh baya yang memasuki usia kepala tiga. Tinggiku 167 senti, tidak tinggi memang, sejak jaman sekolah aku lebih sering berada di posisi belakang saat berbaris. Pawakanku standar saja, tidak atletis, meski tidak kurus sekali atau gemuk banget. Penampilanku biasa saja, dengan kulit kecoklatan, hidung tak mancung khas wajah asli Nusantara. Tak bisa dibilang ganteng, meski tak jelek-jelek amat juga. Meski begini, dulu jaman sekolah banyak juga yang jadi fansku. Harus memang titik kuatku bukan di sisi luar kepala, melainkan di dalam kepala. Dan aku bersyukur dianugerahi istri yang tidak menilaiku dari penampilan fisik. Terlebih lagi, bagiku, istriku itu sangat cantik. Di usia pernikahan kami yang kelima, kami telah dianugerahi dua anak yang lucu-lucu. Meski menggemaskan dan amat mewarnai hari kami, tentu keberadaan mereka membuat kami agak kesulitan mencari waktu untuk berduaan. Syukurlah malam ini anak-anak tidur cepat. Aku mencolek istriku yang baru selesai menid

Pandemi: Gak Cuma Work From Home, School from Home Juga

Gambar
Pandemiiiiiii. Masih di sini membersamai kita semua, tak peduli dengan kaum antipati yang pengen hidup nornal kembali sembari mengabaikan protokol kesehatan yang sebenarnya pasti sudah diketahui. Selain work from home yang terkadang menerobos batas-batas waktu pribadi, kondisi ini membikin galau ketika memikirkan bagaimana anak sekolah nanti. Mau sekolah tatap muka, vaksin anak-anak kan belum tersedia. Apalagi, anak-anak kan paling susah dicegah untuk menyentuh berbagai permukaan, pun menjaga jarak dengan teman seumuran (ssst, orang dewasa  tua aja kadang susah jaga protokol).  Di tengah kegalauan, alhamdulillah penulis punya istri yang cekatan di media sosial, dan menemukan sebuah solusi brilian. Flashback sejenak, kami sempat berkeliling mencari TK untuk putri kami. 5 Desember 2020, kami berpetualang, menuju sekolah impian. Berbekal informasi dari seorang kawan, tibalah kami di sekolah itu. Aira langsung jatuh cinta dan nggak mau pulang. Diajak pulang nuangis gak karuan. TK rasa un

Pengawasan dengan Drone: Inovasi, Urgensi atau Sekedar Latah Teknologi? (2)

Penuh Pertimbangan Sebagaimana instansi pemerintah lainnya yang menggunakan dana APBN yang dihimpun dari rakyat, DJBC tentu harus mempertimbangkan efisiensi, efektivitas dan akuntabilitas dalam setiap aktivitasnya. Bidang pengawasan pun tak dikecualikan dari hal ini. Terlebih terkait dengan pengadaan PUNA yang merupakan hal yang relatif baru dalam dunia pengawasan pada berbagai instansi di Indonesia. Setidaknya, ada empat aspek yang perlu di pertimbangkan dalam pengadaan PUNA untuk mendukung pengawasan DJBC. Pertama adalah terkait biaya-biaya yang mungkin timbul. Kedua, persiapan apa saja yang diperlukan untuk mendukung operasional PUNA. Ketiga, bagaimana kemampuan operasional PUNA itu sendiri. Keempat, apa saja risiko yang mungkin menjadi hambatan dalam pengoperasiannya. Bicara soal biaya, tentu tidak hanya membahas satu kali biaya pengadaan PUNA tersebut, namun juga biaya pengoperasian sepanjang usia pakainya. Yang tak boleh dilupakan, tentu biaya perawatan. Jangan sampai aset yang d

Pengawasan dengan Drone: Inovasi, Urgensi atau Sekedar Latah Teknologi?

Gambar
Seiring berjalannya waktu, tantangan yang dihadapi oleh DJBC dalam konteks pengawasan justru semakin kompleks dan seru. Kondisi geografis Indonesia yang luas dan berdekatan dengan negara-negara penghasil narkotik, peningkatan tren penyelundupan narkotik melalui jalur laut, serta persebaran pola penyelundupan akibat efek balon pasca PIBT, menjadi tantangan terkini bagi DJBC sebagai  community protector . Di sisi lain, perkembangan zaman juga membawa peluang baru, yan g harus dieksplorasi oleh DJBC yang ingin sejajar dengan institusi kepabeanan lain di dunia. Salah satu teknologi yang menjanjikan, adalah Pesawat Udara Nir-Awak/PUNA ( Unmanned Aerial Vehicle/UAV ), atau dalam terminologi militer internasional disebut juga dengan drone . Sejatinya, teknologi ini sudah dioptimalkan oleh sejumlah negara sejak puluhan tahun lalu. Namun di masa kini, pemanfaatannya makin meluas, tak terbatas hanya pada negara adidaya. Di Indonesia sendiri, terdapat sejumlah pihak yang memiliki concern dalam

Sotoy Lu

Gambar
Ini sotong. Dia gak sotoy kayak elu, Tong! Bagi sobat muslim di Indonesia, bicara hadits malam jumat, sebagian orang membayangkan yaasiinan atau hubungan suami istri . Tapi, yang lebih jelas keshahihan haditsnya dan lebih utama adalah anjuran membaca surat Al-Kahfi. Tak hanya mendapat cahaya di antara dua Jumat , banyak kisah dalam surat ini yang penuh dengan hikmat. Satu kisah yang amat menarik dan relevan dengan kondisi umat saat ini, adalah kisah Nabi Musa Alayhissalam. Nabi Musa jelas bukan orang sembarangan. Beliau adalah seorang Nabi dan Rasul yang memiliki banyak mu'zizat, dan di antaranya adalah beliau bisa bicara langsung dengan Allah tanpa perantara malaikat. Gak maen-maen kemampuan beliau.  Tapi ternyata eh ternyata, ada seseorang yang lebih banyak tahu daripada beliau. Dikisahkan dalam Al Qur'an surat Al-Kahfi ayat 60 sampai 82, bahwa Nabi Musa diingatkan oleh Allah SWT akan adanya seseorang yang lebih berilmu daripada beliau. Singkat cerita, Nabi Musa pun m

Rekomendasi Lokasi Outdoor di Jakarta untuk Ngemong Bocah

Gambar
Berawal dari update status WA seorang kawan Dinamika TB, akhirnya penulis dan keluarga mengunjungi lokasi ini. Di tengah penatnya ibukota dengan gedung bertingkat berjejer padat dan kemacetan merajalela, sepetak oasis hijau di ibukota sungguh terasa menenangkan. Di mana lokasinya? Yuk lanjut bacanya. Foto lokasi dari temen penulis. Sebut saja Pascal (nama sebenarnya) Bukit teletabis ini berlokasi di komplek GBK ternyata. Tepatnya di dekat Pintu Gelora 5. Dalam satu area terdapat Taman Ampitheater, Hutan Kota GBK, lalu di dekatnya ada semacam resto bernama Hutan Kota by Plataran (kita gak ke sana, kan lagi puasa).  Kenapa memilih tempat ini? Satu, hijaunya nggak nahaan. Seger di mata. Dua, konsep lokasinya terbuka ala alam bebas. Meminimalisir risiko kerumunan. Anak-anak bisa dilepas tanpa terlalu khawatir keramaian, soalnya luas. Bosen kan lihat dinding rumah mulu. Soalnya sejak awal pandemi, keluarga penulis menahan diri. Gak pulkam, gak keluyuran ke tempat keramaian. Pokoknya menjaga

Pandemi Sak Karepmu, Kapan Kelar Sak Karepe Gusti Allah

Sebenarnya, penulis sudah mulai ogah bahas pandemi. Maklum, warga +62 memang tambeng . Coba lihat saja di sekeliling kita, berapa banyak yang patuh prokes 5M. Perlu diingatkan lagi kali ya?  M emakai masker M enjaga jarak M encuci tangan M enjauhi kerumunan M engurangi mobilitas Coba, banyak mana, yang beneran maskernya nutup mulut dan hidung atau yang maskernya cuma buat nutup dagu. Masih banyak pula yang gak maskeran keluyura, foto-foto pula. Coba, banyak mana, yang beneran jaga jarak atau yang bebas lepas tanpa batas, mepet-mepetan meski kondisi lowong lengang. Coba, banyak mana, yang beneran cuci tangan/pakai desinfektan lain atau malah sama sekali ngga ada peralatan pertahanan semacam itu? Coba, banyak mana, yang beneran menjauhi kerumunan atau yang dengan sadar malah menjadi bagian dari kerumunan? Coba, banyak mana, yang beneran mengurangi mobilitas atau malah mikirin gimana cara ngakalin pembatasan sosial dan bahkan mikirin mudik meski gak ada urgency . Seriously , pandemi ini